1 Muharam 1438 H adalah hari yang paling membahagiakan dan menegangkan bagi keluarga kami. Tepatnya pukul 04.20 WIB saya melahirkan putra pertama kami. Kenapa diawal saya tambahkan kata "menegangkan"? Karena proses persalinan saya tidak seperti adegan sinetron, dua tiga kali ngeden tidak lama kemudian terdengar tangisan sang bayi (ini case persalinan saya, kalau persalinan ibu-ibu yang lain mungkin aja beda ya๐).
Proses persalinan saya membutuhkan 7 hingga 8 jam untuk proses pembukaan hingga bayi kami terlahir. Diawali keluarnya flek dan kontraksi palsu, karena khawatir itu tanda-tanda pecah ketuban sehingga saya segera dilarikan ke rumah sakit. Rumah sakit yang saya pilih untuk saya melahirkan adalah Rumah Sakit Hermina Bekasi, salah satu alasan saya memilih Rumah Sakit Hermina Bekasi karena jarak tempuh menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari Rumah kami sekitar 15 menit. Namun dikarenakan sore itu banyak orang pawai obor dan di Sumarecon Bekasi sedang ada acara konser alhasil memerlukan waktu 30 menit untuk sampai ke rumah sakit. Setelah sampai dirumah sakit diperiksa dalam ternyata saya baru pembukaan dua. Dengan mempertimbangkan jalanan yang macet, alhasil saya dirawat di Rumah Sakit menunggu hingga pembukaan 9, selama proses menunggu saya ditemani suami menyusuri lorong di rumah sakit agar proses pembukaannya bertambah dan saya masih sempet makan ice cream dan nasi padang loh. Tapi saat proses pembukaan mulai memasuki pembukaan ke-4, saya merasakan sakit yang luar biasa didaerah pinggang sampai-sampai kaki saya merasa dingin menggigil, sempat terbesit keinginan "apa sebaik y di operasi cesar aja y?", suamipun sempat menanyakan hal yang sama kepada saya. Tapi saat itu tidak ada keadaan luarbiasa yang mengharuskan saya untuk menjalani proses persalinan melalui operasi cesar, sehingga saya meyakinkan dirisendiri bahwa saya dapat melalui ini. Selain itu dukungan dan semangat dari suami saya yang terkasih ๐๐, ibu mertua dan keluarga yang tersayang ๐๐ membuat saya percaya "saya bisa".
Kenapa cerita diatas ๐, setelah dibaca lagi horor ya. Sebenernya cerita diatas mungkin tidak terjadi kalau saja saya melalui proses sebelum persalinan dengan benar ๐ ๐ . Bagi calon mahmudabas (mamah muda anak baru satu๐๐) jangan jiper duluan ya, berikut saya uraikan dua point penting yang tidak saya lakukan sebelum melalui proses persalinan.
1. Tidak mengikuti seminar kelas persiapan ibu melahirkan atau membaca buku mengenai proses persalinan
Biasanya Rumah Sakit Ibu dan Anak mengadakan seminar kelas persiapan ibu melahirkan bagi calon-calon ibu di hari sabtu atau minggu. Rumah Sakit tempat saya melahirkan juga mengadakan seminar kelas tersebut namun saya tidak pernah mengikuti seminar tersebut dikarenakan saya terlalu percaya diri kalau bisa melawati proses persalinan dengan berbekal ilmu googling di internet.
Saat membaca jadwal seminar yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit tempat saya melahirkan, saya lebih tertarik untuk mengikuti seminar setelah melahirkan๐ฃ๐ . Sekarang saya malah penasaran kalau saya mengikuti seminar kelas persiapan melahirkan, apakah kesulitan yang saya alami pada proses persalinan setahun yang lalu tidak akan terjadi?? (hem, mungkin akan terjawab untuk untuk anak ke-dua nanti๐ค๐).
Untuk calon mahmudabas jangan seperti saya ya, yang terlalu percaya diri hanya dengan berbekal ilmu googling di internet๐ . Bukan berarti ilmu googling diinternet itu salah ya, hanya saja sepertinya kurang menyeluruh, jika dibandingkan dengan membaca buku ataupun mengikuti seminar. Dengan membaca buku kita akan mendapatkan informasi yang lebih comprehensive sedangkan dengan mengikuti seminar kita dapat bertanya langsung dengan ahlinya dan dapat mendiskusikan permasalahan yang dihadapi oleh calon ibu yang lain.
2. Tidak berolahraga
Saat memasuki usia kehamilan 8 bulan, seharusnya para calon mahmudabas menyempatkan waktu untuk berolahraga. Tentunya olahraga yang aman untuk ibu hamil, seperti senam hamil atau berenang, bahkan jalan santai di sore hari ataupun pagi hari termasuk dalam olahraga yang aman. Dengan berolahraga seperti senam hamil, calon mahmudabas berlatih ritme pernapasan yang benar yang sangat diperlukan proses mengedan.
Karena saya hanya sekali mengikuti senam hamil, alhasil saya kelimpungan saat proses mengedan. Ditambah lagi posisi mengedan saat senam hamil berbeda dengan posisi yang diarahkan oleh suster dan dokter saat persalinan.
Faktor yang menyebabkan saya tidak berolahraga adalah rasa malas pada diri sendiri.
Saya harap bagi calon mahmudabas dua point diatas jangan sampai terlewat ya, dan bersikap baiklah kepada ibu/mamah kalian karena setelah melewati proses persalinan kalian akan merasakan bagaimana perjuangan ibu/mamah melahirkan kalian. Untuk calon ayah terus beri dukungan terhadap istri tercinta, karena proses persalinan bagaikan berada diantara hidup dan mati. Terakhir, jika semua usaha telah dilakukan, setiap orang punya cerita masing2, apapun hasilnya, mungkin bagi kita tidak sesuai harpan, tapi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita.
Comments
Post a Comment