Hari ini, di jalur KRL stasiun manggarai, bunda mulai menulis kembali. Entah mengapa isi kepala bunda dipenuhi dengan kehampaan. Tahun ini sudah berjalan 6 bulan lebih, namun rasanya sangat amatlah melelahkan. Rasanya bunda bukanlah orangtua yang ideal seperti di drama2 atau yang ada dibuku parenting. Karena tiada hari bunda berteriak memarahi kalian. Apakah kemarahan ini wajar, atau kelelahan bunda beralih kekemaarahan kepada kalian, atau karena bunda sudah melihat betapa kejamnya cara dunia ini bekerja. Sehingga bunda terlalu memaksa kalian mengikuti standar tinggi bunda. Apakah kemarahan ini akan menjamin masa depan kalian menjadi lebih baik? Atau kemarahan bunda dapat merusak masa depan kalian? Apakah jika bunda tahu masa depan atau ada buku bagaimana seharusnya menjadi orangtua, akankah bunda akan lebih berdamai dengan kekacauan kecil yang kalian lakukan. Hai anak2ku.. Jika suatu saat nanti kalian sudah besar dan membaca ini. Bunda harap kalian dapat memaafkan bunda, m...
Perlu waktu 5 tahun bagi saya dan suami untuk mendapatkan amanah anak kedua dari Alloh. Segala cara dan situasi sudah kami lewati: 1. Makan makanan dan minum minuman tertentu di tanggal tertentu. 2. Mengikuti program kehamilan ke dokter, yang mana baru mau program, suami mendapat amanah tugas ke Aceh, alhasil program gagal. 3. Mengamini setiap pertanyaan kapan punya anak kedua?. Ditambah dibandingkan dengan adik ipar saya yang sudah punya anak kedua lebih dulu. Dari hal-hal tersebut diatas saya belajar. Jika nanti saya menanyakan seseorang (baik orang dekat atau baru kenal) mengenai jumlah anak (kalau bisa tidak perlu menanyakan, biar orangnya sendiri yang bercerita), maka saya tidak usah bertanya lebih dalam, apa lagi membanding-bandingkan dan atau memberikan advice. Memiliki anak merupakan rezeki dari Alloh. Hanya Alloh yang mengetahui waktu yang tepat kapan rezeki berupa anak diberikan kepada pasangan suami istri, sehingga sepatutnya pasangan tersebut hanyalah...