Berawal dari kegalauan saya karena kurang lebih 2 bulan setiap mau tidur hatta bilang "hatta mau tidur sama uti" 😭😭 . Sedih banget, tapi ini juga karena salah saya.
1. Saya terus-terusan pulang malam.
Selama 2 bulan saya pulang larut malam. Dari bulan agustus s.d september kerjaan kantor semakin banyak tapi personilnya berkurang, alhasil s.d akhir september selalu pulang dari kantor larut malam, sesampai di rumah sudah tepar, kalaupun main sama hatta sebentar banget, kebanyakan saya yang ktiduran duluan, alhasil hatta tidur sama utinya. Di bulan oktober sudah ada mba tiwie dan mas ugi, kerjaan sudah dibagi-bagi, dan saya mulai pulang sesuai jam kantor.
2. Saya memaksa hatta untuk disapih.
Saya ga mau ini terus berlanjut, bukan karena saya tidak suka hatta tidur sama utinya. Tapi saya merasa bonding saya dan hatta sudah mulai renggang. Saya memutuskan untuk cuti selama 5 hari (menghabiskan cuti tahunan saya, Alhamdulillah atasan mengizinkan), sehingga tgl 1 s.d 9 desember saya dan hatta berangkat ke kota bandung (tempat suami saya bekerja). Misi saya adalah:
1. Hatta bisa disapih
2. Hatta bisa minum susu di gelas
3. Hatta bisa pipis dan pup di WC
Namun yang berhasil adalah proses toilet training. Saya sangat bersyukur dengan keputusan saya untuk cuti 5 hari, sehingga hatta tidak menggunakan pempers dan tidak pup dipojokan. Lumayan budget pempers berkurang 😆, tetep ya emak-emak (Bercanda). Bukan masalah uang, uang itu sudah Alloh yang atur. Hal ini bunda lakukan karena bunda sayang hatta. Kemandirian hidup merupakan salah satu dari pelajaran hidup yg perlu bunda tanamkan ke hatta, karena nantinya hatta akan tumbuh menjadi dewasa bahkan orangtua.
Setelah berbagai tahapan dan situasi yang telah saya lalui, berikut inti dari suksesnya toilet training hatta.
• Mengetahui jadwal pipis anak
Saya mulai menerapkan toilet training hari senin tanggal 3 Desember 2018, karena malam minggu saat tidur saya masih menggunakan hatta pempers, jadi di pagi hari saat hatta bangun dari tidur masih memakai pempers. Selanjutnya saya memandikan hatta, saat memandikan hatta sambil saya bilang ke hatta
🧕: "hatta abis mandi kan kita pakai baju dan celana, tapi hatta tidak pakai pempers ya, kalau hatta merasa mau pipis hatta bilang sama bunda ya, nanti kita ke kamar mandi,"
🧒: "iya bunda"
🧕: "mumpung ini dikamar mandi kalau hatta mau pipis, yuk pipis sekarang"
🧒: "ngak bunda"
🧕: "kalau hatta merasa mau pipis, hatta bilang bunda ya"
🧒: "iya bunda"
Waktupun berlalu, jam menunjukan pukul 10 kurang dan hatta belum pipis. Setelah hatta sarapan, saya dan hatta menonton TV. Jeng-jeng, tiba-tiba baju saya basah, hatta pipis. Kalau saat seperti ini terjadi, tahan emosi (jangan panik dan memarahi anak). Perbincanganpun terjadi
🧕: wah hatta pipis ya.
🧒: saat itu hatta bengong, mungkin saat itu dia binggung, kok basah.
🧕: yuk kita ke WC. (Sambil gendong hatta ke wc)
🧕: hatta binggung y kok celana hatta basah, itu namanya pipis dek, pipisnya keluar dari burung hatta. Kalau hatta pipis di toilet, celana hatta ga akan basah. Yuk sini buka celananya, yuk kita cebok dlu.
Kejadian ini berlanjut, ternyata jam 12 hatta pipis lagi kali ini di sofa (alhamdulillah bahan sofanya kulit, bagi ibu-ibu yg mau beli sofa tapi masih punya anak kecil, saran aja lebih baik beli sofa kulit lebih aman). Saya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, namun saat mau memakaikan celana, saya sedikit galau apa dipakaikan pempers saja, karena setelah ini hatta akan tidur siang. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakaikan pempers, terkejut saya ternyata hatta nggak ngompol sama sekali. Di sore hari setelah hatta bangun, saya langsung mengajak hatta mandi dan sekaligus pipis. Namun dimalam hari saya memakaikan hatta pempers.
Dari pengalaman saya, jadwal terbaik untuk proses belajar pipis adalah Jadwal sholat. Saya baru tersadar ketika telah melewati berbagai situasi seperti kelimpungan cari toilet di mall, mesjid istiqlal, tempat nikahan, tempat makan, tempat rekreasi bahkan di rumah. Sehingga kalau sudah waktunya sholat, saya mengajak hatta pipis dulu, baru ambil air wudhu dan sholat (tapi kalau waktu subuh karena masih setegah sadar, kadang hatta mau wudhu, kadang tidak). Tapi di malam hari setelah isya, biasanya saya memperhatikan gerak-gerik hatta, biasanya kalau dia nahan pipis dia akan pegang burungnya dan menyilangkan kakinya. Selain itu sebelum tdur saya selalu berdialog seperti ini ke hatta
🧕: hatta mau pipis?
🧒: enggak bunda.
🧕: kalau mau pipis bilang ya.
🧒: iya.
Kenapa berdialog? Karena itu lumayan berpengaruh, jam 2 malam hatta akan teriak minta pipis, dan saya akan siap secepat mungkin menuju ke toilet. Tapi kalau jam 2 malam hatta tidak bangun, opsi selanjutnya bangunkan hatta di saat sholat subuh sekalian ajak hatta sholat subuh. Alhamdulillah sekarang hatta sudah tidak mengompol lagi dimalam hari atau dipagi hari.
• Memberikan contoh
Di hari kedua tanggal 4 Desember 2018, tidak sama persis seperti hari kemarin namun setiap dua hingga tiga jam hatta saya ajak ke kamar mandi. Ada perkiraan jam saya yang salah, alhasil hatta pipis di play ground gateway. Di hari ketiga tanggal 5 Desember 2018, saya tidak lagi menggunakan metode menanyakan tapi mencontohkan. Dipagi hari, setelah hatta bangun dari tdurnya, saya bilang ke hatta,
🧕: Hatta bunda mau pipis ni, pipis yuk ta.
Perlu beberapa waktu menunggu jawaban dari hatta yang masih mengumpulkan kesadarannya.
🧕: Hatta buka dulu ya celananya (sambil membuka celana hatta)
🧒: enggak bunda (sempat ada penolakan dari hatta)
🧕: yasudah, kalau begitu bunda dulu ya yang pipis. Kalau pipis celananya dibuka dan duduknya jongkok. Abis itu disiram dipencet ini nya, trus cebok deh pakai semprotan ini. (Menjelaskan dengan ekspresif, agar anak tertarik)
🧒: hatta mau pake semprotan.
🧕: iya, hatta boleh pake semprotan, tapi hatta pipis dulu ya.
🧒: iya.
Dan itu saya terapkan hingga sore, sesuai jadwal pipis ya hatta. Ketika itu dimalam hari saya masih menggunakan pemper.
Dari pengalaman saya, memberikan contoh itu penting. Mungkin ada yang risih harus buka-bukaan dengan anak. Dengan mencontohkan anak akan paham apa yang kita maksud. Selain itu, ini dilakukan diawal proses. Karena seiring dengan berjalannya waktu
1. Anak akan tau ternyata pipis di toilet lebih nyaman daripada menggunakan pempers yang basah.
2. Anak akan merasakan ingin pipis/pup.
3. Anak akan mengekspresikan saat ingin pipis/pup, hingga menyampaikan kepada kita ia ingin pipis/pup.
• Sabar dan jalani prosesnya
Di hari selanjutnya saya menemui beberapa kegalauan selanjutnya:
1. Bagaimana dengan pembelajaran pupnya hatta?
Di hari keempat dan kelima tanggal 6 dan 7 Desember 2018, saya tetap menerapkan metode pantau jadwal dan mencontohkan. Alhamdulillah hasilnya hatta tidak pipis di celana selama pagi hingga siang hari. Namun di hari kelima tepatnya disore hari, saat sedang makan di ground gateway, hatta tiba-tiba mojok dengan eksprsi mengeden. Ini pertanda hatta pup. Ketika pup hatta selalu minta saya untuk menjauh darinya. 🧒: bunda sana dulu (sambil ekspresi ngeden) saya tidak lantas menjauh, saya tetap didekat hatta dan menunggu sampai hatta selesai pup.
2. Bagaimana caranya menerapkan toilet training saat berpegian?
Di hari keenam tanggal 8 Desember 2018 suami saya mengajak hatta dan saya untuk jalan-jalan di kota bandung. Sayapun risau, memakaikan hatta pempers atau tidak, tapi suami saya menyarankan untuk tetap memakaikan pempers.
Kedua kegalauan saya ini dan kegalauan berikutnya selalu terademkan dengan dukungan suami. Menurut suami saya, semua sudah ada prosesnya, jalani dan nikmati saja prosesnya, tidak ada yang instan, tidak perlu memaksakan apalagi membandingkan dengan anak oranglain. Lalu bagaimana saya bisa menjalaninya?
Cara bersabar dan nikmati prosesnya tidaklah mudah. Apalagi menerapkan toilet training disaat diluar rumah, diperlukan kesabaran tingkat dewa baik dari sang ibu dan sang anak. Awal memulai tidak memakai pemper jika keluar rumah, kami (saya dan suami) menerapkan beberapa strategi
1. Pergi keluar rumah disiang hari dan pulang tidak larut malam.
2. Memastikan sang anak sudah bisa mengutarakan ingin pipis dan menyampaikan ke anak jika ingin pipis bilang ke bunda atau ayah.
3. Memastikan dihari sebelumnya hatta sudah pup.
4. Pilih tempat yang terdapat nursering room.
5. Pilih tempat yang banyak toiletnya dan mudah diakses, kalaupun antriannya cukup panjang coba alihkan perhatian anak dengan mengajak y bercanda, mengobrol atau bermain sambil mengantri agar anak tidak bosan dan dapat teralihkan rasa pipisnya.
hasilnya perjalanan keluar rumah aman hatta hanya pipis.
Namun waktu itu kita rencana menghadiri pernikahan, ternyata kita salah tanggal, alhasil kita muter-muter jakarta sampai larut malam. Bisa dibilang itu benar-benar tidak terencana, ditambah hari sebelumnya hatta belum pup. Selain itu hatta masih belum konsisten pup di WC, hatta masih pup dipojokan. Kenekatan yang berujung pada kelelahan berdampak munculnya ketidak sabaran saya. Tepatnya saat ingin mulai sholat maghrib dan posisi di shaf tegah di mesjid istiqlal, tiba-tiba hatta bilang mau pup, sayapun langsung gendong hatta berlari menuju toilet yang entah dimana, hanya bermodal mengikuti papan petunjuk, ternyata jauh banget. Sesampai di toilet, langsung buru-buru melepas celana hatta dan mendudukan hatta di WC duduk. Memeganggi hatta cukup lama, tapi pupnya hatta ga mau keluar, akhirnya q kembali sholat ke atas. Setelah sholat, ternyata hatta udah mojok lagi, sayapun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini ditemani suami. Kesalahan saya ketika itu, saya agak mengrutu kepada hatta dan terlihat kekesalan saya dari cara saya memakaikan celananya, karena ternyata pup y tidak keluar juga. Saat itu juga suami saya mengademkan dan menggantikan saya memakaikan celana hatta
🧔: pelan-pelan sama anak, hatta ga mau ee disini karena WCnya ga nyaman y nak. Yasudah kalau hatta tidak mau ee, kita jalan-jalan lagi yuk.
Setelah itu, saya benar-benar amat menyesal karena saya kalah dengan emosi dan ketidak sabaran. Yang lebih membuat saya merasa amat sangat bersalah adalah sejak hari itu hatta jadi tidak bisa pup/sakit sembelit, hatta mencoba untuk pup tapi tidak keluar-keluar. Setelah hampir 6 hari, saya bawa ke puskesmas, namun di puskesmas tidak diberi obat apapun. Sehingga kami membawa hatta ke rumah sakit hermina, menurut dokter gita sembelit bisa disebabkan kekurangan serat ataupun kelebihan serat. Saya disarankan untuk memberikan hatta minum air putih yang banyak selain itu dokter memberikan obat colok ke pantat. Namun belum sempat kami colok, tidak lama hatta mengedan sampai mukanya merah. Awalnya hatta tidak mau ditemani, tapi saya bersikeras tetap mau didekat hatta sambil memeluknya dan mengelus punggungnya. Alhamdulillah pupnya hatta keluar. Sejak kejadian itu, saya selalu berusaha mengendalikan emosi dan ketidak sabaran saya, bahkan saat dimalam hari hatta membangunkan saya untuk pipis.
Lalu kapan dan bagaimana hatta bisa konsisten pup di wc? Tepatnya saya lupa, caranya dengan mengenali alasan anak tidak mau pup di WC. Saat itu saya sedang memandikan hatta, tiba-tiba saya ingin pup
🧕: hatta bunda pup dulu ya. Hatta main mainan aja dulu.
🧒: iya. (Tapi ga fokus main, ngelirik-lirik bundanya pup)
🧒: ih pupnya bunda bau.
Mendengar respon hatta seperti itu, sayapun langsung berfikir, jangan-jangan selama ini hatta minta saya menjauh saat hatta pup, karena hatta merasa pupnya bau. Sesegara mungkin saya menjawab
🧕: iya pup bunda bau ya. Semua orang pup ya bau kok. ayah, uti dan anti juga bau. Tapi bunda, ayah, uti dan anti pup ya di WC. Hatta pup ya bau juga ya? Berarti hatta pup ya juga di WC. Hatta kan sudah besar.
Ternyata secara tak sengaja saya sudah menemukan alasan hatta pup dipojokan. Di waktu berikutnya saat saya dirumah dan hatta ingin pup, posisi hatta sudah dipojokan. Saya menghampiri hatta, ada penolakan dari hatta meminta saya menjauh namun saya meyakinkannya bahwa
🧕: ga apa-apa kok hatta. Ayuk kita ke WC. Kan kemaren hatta liat, bunda ee ya bau juga. Sini bunda temenin yuk.
Dan alhamdulillah hatta mau, sayapun ikut kedalam toilet, duduk bareng sambil mengajak hatta ngobrol.
• Berkelanjutan
Di hari ketujuh, saya pulang ke rumah. Dan menyampaikan ke ibu mertua bahwa hatta sudah bisa pipis di WC. Alhamdulillah, ibu mertua sangat mendukung hatta untuk pipis dan pup di WC. Beliau juga mengajarkan hatta untuk pipis jongkok (karena ini sunnah rosulullah). Begitu juga suami, suami saya sangat sabar sekali dikala kepanikan dimulai dari kata "hatta mau pipis" atau "hatta mau ee" yang disampaikan hatta. Dan mendukung setiap situasi toilet training yang telah kami alami. Apakah kami puas dengan capaian hatta ini, pastinya kami sangat amat puas sekali. Namun masih ada step selanjutnya, seperti melepas celana sendiri, mencebok pantat dan menyiram pup/pipis sendiri.
Semoga sharing pengalaman hatta toilet training dapat menjadi refrensi bagi para orangtua yang sedang menerapkan toilet training ke anaknya. Kurang lebihnya saya mohon maaf.
Comments
Post a Comment