Kalau bicara tentang perAsian, bagi mommy pekerja seperti saya sangatlah banyak tantangannya. Beberapa tahap perAsian yang saya lalui yaitu:
1. Awal pemberian ASI
Alhamdulillah proses awal pemberian ASI kepada hatta lancar, dimana hatta tidak binggung puting. Mengenai posisi menyusui, lerning by doing.
2. Proses pumping ASI
Setelah 2 minggu dari lahiran, saya baru mencoba melakukan pumping ASI. Awalnya dapet sedikit sekali 1 ml perlu waktu yang lama. Sempet resah dan khawatir, bagaimana ini, belum ada stock ASI, 1 stgh bulan masuk kantor. Setelah googling dan tanya sana sini, ternyata ini wajar, karena kebutuhan baby y juga masih sesikit. Alhamdulillah dapet pinjaman pumping dari mba ian dan sering di pumping akhirnya volume hasil pumping lebih banyak. Stockpun mulai ada, dan alhamdulillah mencukupi.
Hingga akhirnya saya mulai masuk kerja, awal-awal masuk kerja saya masih bisa pumping. namun seiring waktu berjalan, kerjaan datang tanpa henti, jadwal pumping terbengkalai, lelah dan setres melanda berakibat ASI seret dan kejar tayang stock ASI. Waktu itu sempet sharing sama metha dan dikasih tau coba makan sawi pait. Alhamdulillah berhasil, volume ASI kembali seperti semula. Namun di umur hatta 1,3 tahun saya dipindahkan ke seksi pemeriksaan sehingga saya perlu mempelajari aturan, prosedur, proses bisnis baru sehingga jadwal pumping mulai keteteran. Alhasil 1,5 tahun saya berhenti pumping, hatta mulai diberikan susu UHT.
Kenapa saya pilih UHT, sebenarnya awalnya saya binggung mau UHT atau sufor. Setelah googling ternyata sufor dan UHT sama baiknya, lihat kecocokan terhadap anak. Sehingga saya memutuskan untuk mencoba UHT terlebih dahulu, pilihan saya jatuh pada ultra mimi rasa coklat. Alhamdulillah hatta cocok.
3. Persapihan ASI
Per Mei 2018, ritme persusuan hatta, untuk weekday pagi hingga sore hatta minum UHT dan malam hari hatta direct. Untuk weekend, pagi hingga malam hari direct. Ini berlangsung hingga Juli 2018, diawal bulan Agustus 2018 saya dan suami sepakat kita mulai bertahap mengurangi frekuensi direct hatta dengan memberitahu kepada hatta kalau sedang pergi keluar rumah/jalan2 hatta minumnya susu ultra. Alhamdulillah hatta mengerti dan paham (sebenernya yang bilang ke hatta adalah suami saya, entah bagaimana suami saya bisa mempengaruhi anak saya). Selain itu, dimalam hari saya mulai rutin memberitahukan hatta jika nanti umur hatta 2 tahun hatta tidak boleh nenen lagi.
Bulan berikutnya yaitu september 2018 saya melakukan tindakan yang seharusnya tidak saya lakukan. Disuatu malam, saya memaksa hatta untuk tidak boleh nenen. Ternyata hatta malah tantrum, hatta nangis sekejer-kejernya selama 15 menit. Salahnya saya tidak mengkomunikasikan hal ini ke ibu mertua saya, alhasil ibu mertua saya mengedor pintu kamar saya, sambil memarahi saya. Anak sayapun langsung bilang uti, mau ke uti. Buah dari ketidak sabaran dan kurang komunikasi saya dengan ibu mertua membuat hatta selama dua bulan tidak mau tidur malam dengan saya. Lalu apa yang saya lakukan? saya memutuskan untuk cuti 5 hari ke Bandung, rencananya saya ingin menyapih hatta atau setidaknya hatta dekat kembali dengan saya.
Alhamdulillah hatta sedikit demi sedikit, dengan pulang kerja lebih awal dan menyisihkan waktu bermain bersama hatta (thank you sarannya mba erni, metha buku mentassorinya dan mba tiwie saran-sarannya kalau lagi buat mainan buat hatta). Saya sangat bersyukur sekali, sehingga saya mengeyampingkan proses persapihan hatta. Saya mengalihkan fokus untuk hatta minum susunya tidak pakai botol susu bayi. Awalnya saya secara lisan bilang ke ibu mertua, ternyata ibu mertua tidak tega kalau hatta merengek minta minum susu di botol. Alhamdulillah, tepatnya bulan Januari 2019 secara tidak sengaja saya menemukan cara menyingkirkan botol susu. Jadi waktu itu saya menginap di rumah papah saya. Setelah dari rumah papah, saat hatta tidur saya simpan semua botol susu. Saat ibu mertua saya pulang, ibu mertua saya bilang ke hatta,
👵: hatta kemaren ke rumah kakek botol susunya ketinggalan ya. Sekarang minum susunya di gelas atau langsung di kotaknya ya.
Hattanya kaget sambil meriksa tempat yang biasa bertengger botol susunya. Alhamdulillah sejak saat itu hatta tidak minum susu di botol (sebaiknya di usia 1 tahun, anak sudah tidak menggunakan botol susu, menurut dokter gigi karena tidak baik untuk pertumbuhan giginya).
Kembali kepersapihan, saya konsisten untuk bertahap dan bersabar..
bertahap dengan cara:
1.kalau pergi2 ga nenen.
(kalau anak berhasil pas pergi2 ga nenen, jangan lupa kasih apresiasi, dan terimakasih)
2.Lanjut kalau siang weekend ga nenen.
3.Baru tahap akhir yang lumayan lama adalah ga nenen malam. Tahap awal kami sampaikan ke hatta, jika ada ayah ga nenen malam ya (Karena saya dan suami long distance merried, dimana suami saya pulang jum'at berangkat minggu malam, jadi hatta dalam seminggu ada dua malam hatta tidak nenen malam).
4. Dan jangan lupa mengkomunikasikan ke anggota keluarga yang serumah dengan kita bahwa kita dalam proses menyapih.
Bersabar dengan terus di sounding
1."kalau hatta sudah besar, sudah tidak nenen lagi"
2.Bagi yang muslim bisa ditambahkan
"Di Al-Quran surah Ali-Imran , diperintahkan umur 2 tahun, bunda perlu menyapih hatta"
3.buat target bulan apa harus bisa disapih
"Jadi nanti dibulan Agustus hatta harus berhenti nenen sama bunda ya"..
Ga usah jiper dengan usia sudah 2 tahun lebih. Pengalaman saya menyapih anak saya 2 tahun 7 bulan. Alhamdulillah di bulan Mei 2019 (sebelum target yg saya tentukan) hatta sudah ga nenen lagi, Karena ada waktunya dimana anak akan paham dengan sendirinya, dan lebih milih susu.
Semangat, yakin dan percaya bahwa akan tiba waktunya WWL berhasil..
Selain itu dukungan suami merupakan faktor yang sangat penting dalam proses persapihan ini.. disaat kita mulai menyerah, ragu dan lelah..
Terimakasih suamiku yang selalu mendukungku..😘😘
Semoga segera berhasil ya mom.. ammiin..
Comments
Post a Comment